Guys, gw pernah bikin cerpen buat Lomba di salah satu Univ di Indo. di lomba ini gw gagal. cerpen gw temanya sosial. disini gw coba share ma lo biar lo juga bisa menilai cerpen gw. baca cerpen ini dengan bijak y… soalnya cerpen dewasa. trus, kalo ad yg mau copas, boleh aj, tapi jgn lupa tulis sumbernya y! heheheheh… mksh… slamat membaca…
“Suamimu adalah Suamiku”
Semua terdengar berisik disini. Dentangan jam, suara jangkrik, suara burung hantu, kelelawar, ranjang yang berderit, dan desahan istriku yang begitu menggema ditelingaku. Aku tidak nyaman dengan keadaan ini. Walau nikmat, aku tetap tidak nyaman. Matanya berkerlap kerlip menikmati setiap hentakan yang aku lakukan. Bibirnya memagut bibirku dengan tajam. Tapi aku masih tetap tidak nyaman dengannya. Erangan erotis yang dia berikan tidak membuatku tergugah untuk menikmati silaturahmi kelamin ini.
Kelaminnya tidak enak. Alot, bau, dan terlalu besar untuk kelaminku. Dia bukan Marsinah yang kukenal dulu. Marsinah dengan tubuh ramping yang menggairahkan, buah dada yang sesak, dan kelaminnya yang nikmat. Dulu, itu semua memberiku kenyamanan. Kenyamanan yang tidak lagi kuperoleh setelah 8 tahun aku menikahinya.
Aku bersyukur karena aku tidak punya anak dari Marsinah. Dia mandul. Tapi dia menyangkal kalau dia mandul. Malah dia yang menuduhku mandul. Wanita yang tidak tahu adab kepada suami.
Keringatku menetes deras menghujani tubuhnya. Tetesan kelelahan karena Marsinah tidak pernah puas dengan 1 kali orgasme. Ini membuatku membencinya dan juga membuat kelaminku sakit.
Kadang aku berdiskusi dengan kelaminku tentang Marsinah. Aku membuat kesepakatan bahwa silaturahmi kelamin harus dibatasi. Aku mengerti perasaan kelaminku yang menahan nyeri saat silaturahmi kelamin.
Aku berkata pada istriku bahwa aku ingin punya anak. Anak yang bisa meneruskan namaku agar selalu dikenang bahkan sesudah aku mati. Aku juga ingin mempunyai anak yang bisa meneruskan perjuangan kelaminku untuk membentuk keturunan-keturunan baru.
Istriku senyum senang mendengar perkataanku. Tapi kenapa dia harus senang? Dia mandul. Aku tidak mungkin punya anak dari Marsinah. Walau dia menyangkal kemandulannya, dia tetap wanita mandul bagiku.
Aku ingin menikah lagi. Ya, aku harus menikah lagi agar perjuangan kelaminku untuk mendapatkan anak bisa tercapai. Sebenarnya aku berbohong pada Marsinah saat berkata ingin menikah lagi karena ingin punya anak. Aku mengininkan kelamin segar dari wanita segar. Aku ingin merasakan kenyaman saat silaturahmi kelamin. Aku ingin kembali merasakan kenyamanan yang bertahun-tahun lenyap gara-gara Marsinah.
Kami masih saling bersilaturahmi kelamin di tengah bisingnya suara malam. Malam ini, aku dan kelaminku sepakat untuk berhenti bersilaturahmi kelamin setelah Marsinah 2 kali orgasme. Aku akan menghemat tenagaku untuk Laras. Wanita keduaku yang seminggu lalu aku nikahi. Walau terpaut umur 20 tahun, aku tidak peduli. Wajahnya yang elok, buah dada yang sesak, pinggang yang ramping dan kelaminnya yang nikmat.
Kusudahi silaturahmiku dengan Marsinah pukul 1 pagi. Aku senang dan lega bisa meninggalkan tubuh tua dengan kelamin alot itu. Sekarang aku beranjak dengan penuh kemenangan menuju kamar wanita keduaku untuk silaturahmi kelamin.
Aku hanya perlu beberapa langkah untuk menuju kamar Laras. Kamarnya bersebelahan dengan kamar Marsinah. Dengan langkah segar dan semangat yang besar dari kelaminku, aku membuka pintu kamar wanita keduaku.
Aku mengambil gelas berisi air putih dan 5 pil obat kuat. Malam ini akan menjadi malam terindah untukku. Dia terbaring dengan indah diatas ranjang. Pahanya yang mulus, lekuk tubuhnya yang indah, buah dadanya yang sesak, dan rambutnya yang tergerai indah semakin membuatku haus akan kenikmatan.
Kami saling bersilaturahmi kelamin. Kelaminnya sangat enak dan mengingatkanku akan Marsinah 8 tahun lalu. Kelamin yang sempit, indah, dan wangi. Inilah yang aku bayangkan dari keindahan silaturahmi.
Dentangan jam, suara jangkrik, suara burung hantu, kelelawar, ranjang yang berderit, dan desahanku seakan menjadi melodi yang merdu di tengah silaturahmi kami. Aku terjebak dalam kenikmatan yang tak ingin aku hentikan. Rintihannya membuatku semakin nyaman, derai air matanya membuatku nyaman, dan kelaminnya membuatku sangat nyaman.
Dadaku berdebar sangat keras saat kupagut bibir merahnya. Debarannya semakin keras saat kuhentakan pinggulku semakin dalam. Semua debaran di dalam dadaku ini seakan membucah tidak berhenti. Seolah genderang perang yang terus bekoar di tengah panasnya peperangan. Dan aku sadar, bahwa ini adalah akhir perjuangan kelaminku.
***
Suara nyanyian malam begitu mengena dihatiku. Saya sangat nyaman dengan dentangan jam itu, suara jangkrik, suara burung hantu, kelelawar, ranjang yang berderit, dan silaturahmi kelamin yang saya lakukan dengan suami. Saya berusaha untuk menikmati silaturahmi ini. Tapi, nampaknya suamiku merasa tidak nyaman. Mataku berkerlap kerlip menikmati setiap hentakan yang suamiku lakukan. Bibirku memagut bibirnya dengan tajam. Berharap suamiku merasa nyaman, tapi sepertinya dia masih tidak nyaman. Saya mengerang erotis sebisa yang saya lakukan untuk menggugahnya agar menikmati silaturahmi kelamin ini, tapi saya kembali gagal. Sepertinya dia masih tidak nyaman.
Saya sering mendengar ucapan suamiku yang mengatakan kalau kelamin saya tidak enak, alot dan terlalu besar untuk kelaminnya. Bagi dia, saya bukan Marsinah yang dia kenal dulu. Dulu dia menganggapku bertubuh ramping yang menggairahkan, buah dada yang sesak, dan kelaminku yang nikmat. Sekarang, dia sudah tidak merasa nyaman denganku lagi, setelah 8 tahun umur pernikahan kami.
Saya sangat ingin punya anak dari Hartono. Tapi, dia menganggap saya mandul dan tidak bisa memberi anak. Padahal hasil pemeriksaan mengatakan bahwa Hartono yang mandul, dan bukan saya. Saya mengatakan ini padanya, tapi dia malah mengatakan bahwa saya adalah wanita yang tidak tahu adab kepada suami.
Keringatnya menetes deras menghujani tubuhku. Tetesan yang mungkin berasal dari kelelahan suamiku. Aku selalu orgasme lebih dari 1 kali saat bersilaturahmi kelamin. Aku melakukan ini agar dia merasa puas dan nyaman denganku. Semoga tujuan baikku ini tidak membuatnya membenci saya. Saya harus lebih lama menahan sakit di kelamin. Tapi ini kulakukan agar suamiku puas dan nyaman.
Kadang aku berdiskusi dengan kelaminku dan membuat kesepakatan dengannya agar selalu sabar menahan nyeri saat silaturahmi kelamin. Ini demi kepuasan dan kenyamana untuk suamiku.
Suamiku pernah berkata padaku bahwa dia ingin punya anak. Anak yang akan meneruskan namanya agar selalu dikenang bahkan sesudah dia mati. Saya tersenyum senang mendengar perkataannya. Saya senang karena akhirnya dia berfikiran sama dengan saya. Tapi, dia mandul. Saya tidak mungkin punya anak dari Hartono. walau dia menyangkal bahwa dia mandul, dia tetap Hartono yang mandul.
Dia mengutarakan keinginannya untuk menikah lagi. Dia harus menikah lagi untuk mendapatkan anak. Saya tahu dia berbohong pada saya saat berkata ingin menikah lagi karena ingin punya anak. Dia mandul. Dia tidak mungkin punya anak dari wanita manapun.
Saya tahu sebenarnya dia menginginkan kelamin segar dari wanita segar. Dia ingin merasakan kenyamanan saat silaturahmi kelamin. Kenyaman yang mungkin ingin dia rasakan kembali setelah bertahun-tahun kenyamanan itu lenyap.
Kami masih saling bersilaturahmi kelamin ditengah merdunya suara malam. Malam ini, dia dan kelaminnya hanya memberiku 2 kali orgasme. Mungkin dia sedang menghemat tenaga untuk Laras. Wanita dengan perbedaan umur 20 tahun dengan suamiku yang dia nikahi seminggu lalu setelah aku memberinya izin. Menurut suamiku, Laras memiliki wajah yang elok, buah dada yang sesak, pinggang yang ramping dan kelaminnya juga lebih nikmat dari kelaminku.
Kami berhenti bersilaturahmi kelamin tepat pukul 1 pagi. Saya senang dan lega karena tidak perlu berlama-lama merasakan nyeri di kelamin saya. Dia kemudian beranjak penuh kemenangan menuju kamar wanita keduanya untuk bersilaturahmi kelamin.
Dia hanya perlu beberapa langkah untuk menuju kamar Laras yang terletak disebelah kamarku. Aku hanya terdiam lesu melihatnya pergi meninggalkan kamarku. Saat ini dia tidak hanya menjadi miliku. Tapi juga miliknya.
Suara malam menjadi lebih riuh dengan lolongan suamiku yang membahana. Saya yakin bahwa dia merasakan kenyaman yang tidak dia rasakan dariku. Lolongan itu menyayat hatiku. Kenapa dia tidak melolong saat bersamaku? Tapi, lolongan itu berhenti seketika. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, sepertinya ini adalah akhir dari perjuangan kelaminnya.
***
Semua terdengar berisik disini. Dentangan jam, suara jangkrik, suara burung hantu, kelelawar, ranjang yang berderit, dan desahan dari wanita pertama suamiku yang begitu menggema di telingaku. Aku tidak nyaman dengan keadaan ini. Mengapa dia bisa menikmati silaturahmi kelamin dengan lelaki tua itu? Kurapatkan telingaku di dinding. Aku bisa mendengar setiap hentakan yang suamiku lakukan. Apakah suamiku memagut bibir wanita pertamanya seperti memagut bibirku? Erangan erotis terdengar semakin buncah. Kenapa wanita itu begitu menikmati silaturahmi kelaminnya?
Suamiku sering bercerita bahwa kelamin wanita pertamanya tidak enak. alot, dan terlalu besar untuk kelaminnya. Dulu, wanita pertamanya bertubuh ramping menggairahkan, memiliki buah dada yang sesak, dan kelamin yang nikmat. Namun suamiku tidak memperolehnya lagi setelah 8 tahun pernikahan mereka.
Suamiku selalu bersyukur karena tidak punya anak dari Marsinah. Dia mandul katanya. Tapi, Marsinah menyangkal kalau dia mandul. Malah dia yang menuduh suamiku mandul. Wanita yang tidak tau adab kepada suami.
Keringatku menetes bercampur dengan air mataku. Tetesan kelelahan karena aku hanya jadi budak nafsu suamiku. Suamiku tidak pernah puas dengan 1 kali orgasme. Ini membuatku membencinya dan juga membuat kelaminku sakit.
Kadang aku berdiskusi dengan kelaminku tentang Hartono. aku membuat kesepakatan bahwa silaturahmi kelamin harus dibatasi. Aku mengerti perasaan kelaminku yang menahan nyeri saat silaturahmi kelamin.
Hartono berkata padaku bahwa dia ingin punya anak dariku. Anak yang bisa meneruskan namanya agar selalu dikenang bahkan sesudah dia mati. Dia juga ingin punya anak yang bisa meneruskan perjuangan kelaminnya untuk membentuk keturunan-keturunan baru.
Aku tersenyum senang mendengar perkataannya. Tapi aku tidak percaya dengan ucapannya. Aku hanya budak kelamin untuknya. Dia hanya memerlukan kelaminku, pinggangku yang ramping, buah dada yang sesak, dan wajahku yang menurutnya elok.
Aku membayangkan bila aku menjadi tua dan tidak bisa memberinya anak. Dia akan meminta untuk menikah lagi kepadaku. Pasti dengan alasan klasiknya, yaitu untuk punya anak. Tapi aku tahu dia bohong. Dia hanya menginginkan kelamin segar dari wanita segar. Dia tidak pernah puas mencari kenyamanan dari silaturahmi kelamin.
Telingaku masih menempel di dinding. Dan aku yakin suamiku masih bersilaturahmi kelamin ditengah bisingnya suara malam. Sudah 1 minggu aku mendengar obrolan silaturahmi kelamin antara suamiku dan wanita pertamanya. Aku terpaut umur 20 tahun dengannya. Tapi, sepertinya dia tidak peduli. Dia hanya peduli dengan wajahku yang elok, buah dada yang sesak, pinggang yang ramping, dan kelaminku yang katanya nikmat.
Jam dinding di kamarku menunjukan pukul 1 pagi. Aku mendengar suara derap langkah, suara pintu terbuka, pintu tertutup, dan kembali suara langkah yang menggema. Aku beranjak ke ranjangku dan berpura-pura tidur dengan tengkurap.
Dia hanya perlu beberapa langkah untuk menuju kamarku. Kamarku bersebelahan dengan kamar wanita pertamanya. Langkahnya terdengar mendekat, kemudian suara pintu kamarku yang terbuka, suara pintu tertutup dan suara pintu yang terkunci. Aku mendengar suara nafasnya dan suara tegukan air yang begitu buas. Nampak sekali dia sangat haus.
Dia berbaring dan meraba pahaku, pinggangku, buah dadaku yang sesak dan menggerai rambutku. Aku bisa melihat sorot mata yang sangat kehausan akan kenikmatan. Kami saling bersilaturahmi kelamin. Kelaminnya tidak enak. Alot, bau dan terlalu besar untuk kelaminku.
Ranjang yang berderit, suara jangkrik, burung hantu, kelelawar, dan dentangan jam seakan menjadi melodi yang busuk di tengah silaturahmi kami. Aku terjebak dalam kenikmatan yang ingin aku hentikan. Aku hanya bisa menangisi kebodohanku dan menikmati lolongan yang menjijikan darinya.
Dia memagut bibir merahku dan menghentakkan pinggangnya semakin dalam. Aku bisa merasakan debar jantungnya yang semakin lama semakin keras. Debaran dadanya yang begitu membuncah tiada henti bisa aku rasakan di dadaku. Namun, seketika debaran itu hilang dan lenyap. Dan aku sadar, bahwa ini adalah akhir perjuangan hidup suamiku.
***

Salam Kenal
:-
Irwan Kurniawan
BlogDetik
BlogUnand
salam kenal juga mas… mkasih atas kunjunganny…
Setelah saya membaca artikel “Suamimu adalah suamiku”, ternyata ada 2 bagian yang bertolak belakang.
Pemikiran istri dan pemikiran suami.
Cara penulisan ini benar-banr mantap (menurut saya yang awam tentang gaya penulisan), dan penulis artikel ini sudah dapat di kategorikan sebagai “penulis novel”, (saya lupa nama-nama penulisnya) yang ngetop di baca anak-anak SMU zaman dulu secara sembunyi-sembunyi. he,,,he…
Kalau melihat dari inti permasalah dalam permasalahan diatas, menurut saya adalah kurnagnya “komunikasi & keterbukaan” antara suami dan istri. Dan ‘cinta” di antara mereka sudah pudar.
Kalau cinta masih utuh, ndak akan ada istri kedua. Contoh cinta yang utuh dan tidak luntur seperti cinta antara BJ Habibi & Ibu Ainun, atau cinta antara Ferdinand Marcos & Imelda Marcos.
Sedangkan cinta antara pangeran Charles & lady Diana memang telah luntur …
@heheheh… iy mas… emang itu tujuan ceritanya. tapi, tema yg sy usung sederhana. tulisan ini menggambarkan ketidak-setujuan sy terhadap Poligami. hehhehe… Tulisan2 sy dgn tema dewasa dianggap pornografi. jadi sy belum berani menerbitkan cerpen yg lain. takut blog ini di-suspend.
nice poting..kreatif..
@hehehe… mksh y mas….
Keren banget nich cerpen,,, wlupun agak p*rn* dikit,,,, aku suka mas 5 cerpennya, boleh dikirim ke emailq cerpen yang ndak dipublikasikan disini. Excelentttttt… Good job mas, terus berkarya,,, buatin blog khusus karya tulisan mas, pasti tak kunjungi, hehe
mksh mas… Alhamdulillah… sekarang saya sedang sibuk kerja. jadi ga sempet update blog lagi. Tapi, untuk karya tulis, InsyaAllah nanti karya saya akan dibukukan… do’akan saja y mas…
mas copy saja cerpen2 disni. mudah2an bisa menginspirasi yg lain… hehehe…
Salam kenal dari saya mas…
nantikan buku sy y…